Friday, July 4, 2014

Cara cerdas memilih presiden (versi saya)

Pilpres 2014 sudah di depan mata. Calon presidennya hanya 2, Prabowo dan Jokowi. Maka jangan heran ketika ketika masyarakat Indonesia langsung memisahkan diri menjadi 3 kelompok pemilih, pendukung Prabowo, pendukung Jokowi dan Undecided voters/golputers. Dan ketika calonnya hanya 2 seperti ini, jelas gesekan antara kedua pendukung menjadi sangat intens dan panas. Hal yang saya pribadi sangat sayangkan adalah beredarnya fitnah yang sangat massive dan lamban ditangani oleh pemerintah kita.

Saya adalah seorang golputers, tidak pernah ikut pemilu sejak era reformasi. Tapi ketika pilpres kali ini dihadapkan hanya pada 2 calon presiden seperti ini, entah kenapa, saya merasa ada urgensi mendesak bagi saya untuk ikut memilih, karena saya melihat salah satu capres memiliki potensi masalah yang sangat besar.

Tapi bagaimanapun juga, kita harus objektif dalam menilai sesuatu, maka, inilah faktor-faktor yang menjadi dasar pemikiran saya dalam menghadapi Pemilihan Presiden mendatang.

===

FAKTOR UTAMA

1. Mendefinisikan fakta dan opini

Dengan massive nya fitnah yang beredar, tanpa sadar kita disodorkan berita bohong selama berhari-hari tentang capres tertentu, ini adalah cara-cara paling mudah untuk menurunkan elektabilitas seseorang tapi juga cara-cara paling tidak sehat dalam berpolitik.

Maka, hal yang utama adalah harus bisa membedakan mana berita fakta dan mana berita opini. Berita fakta dan opini biasanya dapat dilihat dari sumber-sumber berita mainstream seperti kompas.com, detik.com, inilah.com, vivanews.com, dll. Ya beberapa media memang dikuasai oleh partai, tapi opini yang dibentuk dalam pemberitaan mainstream lebih dapat di pertanggung jawabkan.

Berikutnya kita tetap harus membedakan mana fakta dan mana opini, sehingga kita harus mau untuk mencari sedikit lebih dalam, dan mencari dari berbagai sumber pemberitaan, tidak bisa hanya berpegang pada satu sumber pemberitaan. Sulit memang tapi tidak ada cara lain.

2. Membandingkan Capres VS Capres (Bukan Capres VS Kesempurnaan)

Ini penting untuk diingat, bahwa kita tidak sedang membandingkan capres dengan kesempurnaan, tetapi membandingkan capres dengan capres. Jadi, ketika ada hal yang tidak sesuai dengan presepsi kesempurnaan kita, jangan lupa, untuk membandingkan capres yang satunya juga.

Contoh menarik yang sering dipakai untuk menyudutkan Jokowi, misalkan, adalah dosa masa lalu Megawati ketika menjual Indosat. Pada debat capres yang ke-2 hal ini di tanyakan oleh Prabowo dan menurut saya terjawab oleh Jokowi. TAPI jangan lupa menanyakan hal yang sama kepada Prabowo, apakah beliau punya konsep atau solusi yang berbeda atau malah tidak punya jawaban jawaban sama sekali.

Sikap objektif seperti ini penting, karena memang harus melihat response keduanya dalam menghadapi sebuah permasalahan.

3. Prestasi (Rekam Jejak) para Capres

Di sini yang perlu kita ingat adalah: Kita mencari seorang presiden, maka dari 2 kandidat ini, harus memiliki kemampuan dalam berbagai bidang, politik, sosial, ekonomi, budaya, pertahanan dan keamanan.

Saya tidak menolak gagasan presiden dari kalangan militer, karena SBY pun berasal dari kalangan militer, hanya saja, harus memiliki kemampuan di berbagai bidang seperti yang saya sebutkan di atas.

3.1. Prabowo

Saya kesulitan untuk mencari Prestasi Prabowo, apalagi di media yang mainstream, segala prestasi yang pernah diraih seakan hilang oleh peristiwa HAM'98. Silahkan google sendiri, dengan kata kunci "Prestasi Prabowo".

Ingat, kesuksesan kopasus belum tentu kesuksesan Prabowo

Satu prestasi yang bisa kita lihat adalah bagaimana beliau bisa membesarkan partai gerindra hingga seperti sekarang ini, lainnya bisa dilihat di http://politik.kompasiana.com/2014/05/29/kenapa-saya-tanya-apa-prestasi-prabowo--660910.html

Saya ingatkan link diatas adalah sumber berita sekunder yang mungkin berisi opini, saya gunakan ini, karena memang saya kesulitan menemukan rekam jejak / prestasi Prabowo.

Untuk mencari lebih banyak prestasi Prabowo, saya mau tidak mau menyarankan anda menggunakan sumber berita sekunder dari pendukung Prabowo, yang tentu saja sulit untuk dipertanggungjawabkan dan cenderung dilebih-lebihkan.

3.2. Jokowi

Beda dengan Prabowo, prestasi Jokowi dapat di cari dengan sangat mudah di media online mainstream.

Prestasi di kota solo

Prestasi di kota Jakarta
Yang perlu diingat, link diatas berasal dari media online mainstream yang sumber beritanya dapat di pertanggung jawabkan. 

4. Visi Misi

Visi Misi Prabowo dan Jokowi dapat di lihat langsung diambil dari sumbernya di website KPU

4.1. Visi Misi Prabowo

Lihat di: http://www.kpu.go.id/koleksigambar/VISI_MISI_prabowo-Hatta.pdf

4.2. Visi Misi Jokowi

Lihat di: http://kpu.go.id/koleksigambar/VISI_MISI_Jokowi-JK.pdf

5. Konsistensi

Tahap ini paling sulit, karena kita harus mencermati betul perkataan dari kedua capres tersebut ketika berkampanye.

Kenapa konsistensi ini penting, karena sebagai kontrol apakah visi-misi dibuat didasari oleh pemahaman pada kondisi faktual, atau hanya sekadar penggembira? Silahkan anda mencari refrensi sendiri.

6. Mengatasi Opini

Opini negatif paling sering menerpa Jokowi, tanpa pernah bercermin pada Prabowo, tapi hanya bercermin pada kesempurnaan. Diawal sudah saya katakan, bahwa ini bukan Capres VS kesempurnaan, tapi Capres VS Capres.

Maka, ketika Jokowi diserang opini gagal mengurus banjir dan macet di Jakarta, maka, bikin saja pertanyaan terbalik: Di ibukota mana Prabowo berhasil mengatasi banjir dan macet?

Ketika Jokowi diserang opini Capres Boneka yang berseliweran disana sini, maka buat pertanyaan yang sama untuk Prabowo, dan ajaibnya saya menemukan artikel ini: http://politik.news.viva.co.id/news/read/45253-prabowo__saya_bukan_dalangnya. Beda dengan Jokowi yang menampik, Prabowo malah terang-terangan mengakui.

Begitu juga sebaliknya. Ketika Prabowo diterpa isu HAM'98, maka buat saja pertanyaan terbaliknya, apakah Jokowi terlibat isu HAM?

Setiap ada opini negatif yang menyudutkan salah satu capres, bikin saja pertanyaan terbaliknya, dan cari jawaban untuk kedua pertanyaan itu di media mainstream, berpeganglah pada fakta jangan pada opini.

Ini cara terbaik dan termudah untuk mendapatkan informasi secara fair.

===

Dengan 6 cara di atas saja, seharusnya kita sudah bisa memilih mana calon presiden terbaik untuk kita, tapi sayangnya, untuk masyarakat Indonesia, hal pertama yang menjadi pertimbangan justru faktor sekunder / faktor pendorong.

Key point nya adalah bandingkan Capres VS Capres. Jangan pernah sekalipun bandingkan Capres VS Kesempurnaan.

===

FAKTOR PENDORONG

1. Isu Agama

Ya, saya adalah salah satu yang menjadikan isu agama menjadi faktor terpenting dalam memilih Capres. Wajar karena ego agama itu memang ada di masyarakat kita dan ada juga di diri saya.

Sebagai seorang muslim, ketika bermain dengan isu agama, kita harus hati-hati, ingatlah selalu dengan beberapa hadist berikut:

وَلَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ وَمَنْ رَمَى مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ.

“Dan melaknat seorang mukmin sama dengan membunuhnya, dan menuduh seorang mukmin dengan kekafiran adalah sama dengan membunuhnya.” (HR Bukhari).

أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لِأَخِيْهِ : يَا كَافِرَ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ.

“Siapa saja yang berkata kepada saudaranya,” Hai Kafir”. Maka akan terkena salah satunya jika yang vonisnya itu benar, dan jika tidak maka akan kembali kepada (orang yang mengucapkan)nya.” (HR Bukari dan Muslim).

لاَ يَرْمِى رَجُلٌ رَجُلاً بِالْفُسُوْقِ وَلاَ يَرْمِيْهِ بِالْكُفْرِ إِلاَّ ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ.

“Tidaklah seseorang memvonis orang lain sebagai fasiq atau kafir maka akan kembali kepadanya jika yang divonis tidak demikian.” (HR Bukhari)

Tanpa bukti yang jelas atau tanpa pengakuan yang jelas dari yang bersangkutan, jangan pernah sekali-kali menuduh orang Islam sebagai kafir.

Ketika isu agama dimainkan dan digunakan untuk menyerang salah satu capres, maka gunakan isu yang sama untuk capres satunya untuk mendapat jawaban yang berimbang.

Keduanya muslim, maka keduanya harus sholat, harus terbukti dan harus pernah terlihat sholat, tidak bisa tidak.

Tapi bagi saya, harus lebih dari itu, karena ini akan menjadi pemimpin saya, dan saya saja sanggup menjadi imam sholat di masjid, maka, saya harus pastikan yang memimpin saya, harus sanggup jadi imam sholat juga. Maaf saja, untuk hal ini saya memang sangat subjektif sekali.

Jokowi mendapat serangan agama yang dahsyat ketika beliau jadi imam sholat, bacaannya jelek lah, ini lah itu lah. Tapi kemudian kita juga harus menggunakan isu yang sama untuk Prabowo juga, dan hasilnya..... sampai tanggal 5 Juli 2014, saya tidak menemukan satu bukti pun Prabowo pernah jadi imam sholat.

Google ajah, kata kuncinya "Jokowi imam sholat" dan "Prabowo imam sholat".

Oh man, begini kah para calon pemimpin ummat Islam di Indonesia?

2. Isu Keluarga

Isu keluarga bagi saya kurang penting, tapi bagi yang mau menjadikan isu keluarga sebagai faktor pendorong, ya silahkan di bandingkan saja.

2.1. Prabowo (Islam)

Bapak: Sumitro Djojohadikusumo (Islam)
Ibu: Dora Marie Sigar (Katolik)
Istri: Siti Hediati Hariyadi (Islam, anak Soeharto, cerai)
Adik: Hashim Djojohadikusumo (Katolik)
Anak: Didit Hediprasetyo (Desainer terkenal)

2.2. Jokowi

Bapak: Noto Mihardjo (Islam)
Ibu: Sujiatmi Notomiharjo (Islam)
Istri : Iriana (Islam)
Anak 1 : Gibran Rakabuming (Islam)
Anak 2 : Kahiyang Ayu (Islam)
Anak 3 : Kaesang Pangarep (Islam)


Data keluarga Capres bukan rahasia sih, tapi biasanya orang sengaja menutup mata atas fakta ini.

3. Isu Agen Kepentingan

Isu ini sangat serius menurut saya, ini termasuk fitnah yang sangat keji, maka kita harus benar-benar berpegang pada fakta, bukan opini, atau "kata si anu, kata si anu".

3.1. Prabowo

Prabowo cenderung sepi isu, bukan sepi isunya, tapi cenderung orang tidak mempermasalahkan, meskipun diambil dari sumber-sumber kredibel sekalipun.

Agen Amerika?
“Dari umur 6 sampai 16 tahun saya tinggal di negara Barat, di Inggris dan Amerika,” kata dia saat bertandang ke kantor Tempo,Rabu 9 Oktober 2013.
“Saya memang masuk AKABRI. Saya lulus, sebelum dan sesudahnya saya banyak bersekolah di Barat. Saya elite Indonesia yang berkiblat ke Barat, kagum pada Barat, besar di alam itu. Jadi, saya besar dengan nilai Barat, nilai modern.” (http://www.tempo.co/read/news/2013/10/26/078524825/Prabowo-Mengaku-Berkiblat-ke-Barat)
Ini ada satu lagi, dibaca sendiri aja:
http://nasional.kompas.com/read/2014/06/03/1023296/Video.Pidato.Hashim.bahwa.Prabowo.Pro-Amerika.Beredar.di.Medsos

Agen Yahudi?
Nat yang dimaksud disini adalah Nat rothschild, seorang konglomerat Yahudi
"Dia (Nat) sangat marah karena merasa diperlakukan dengan buruk, dan mengajak saya. Investasi Nat di Bumi sangat penting dan emosional. Tapi untuk saya, saya hanya bersenang-senang saja, dan saya harap bisa mendapatkan uang dari situ," ujar Hashim kepada Financial Times (http://finance.detik.com/read/2013/02/19/133618/2173923/6/1/pengakuan-hashim-djojohadikusumo-dukung-rothschild-singkirkan-bakrie-di-bumi)

Sumber Financial Times nya: http://www.ft.com/cms/s/0/9abf5786-773f-11e2-9ebc-00144feabdc0.html#axzz36Xc9RUx9

Sumber dari media Islam yang mendukung Prabowo menjadi Capres: http://www.voa-islam.com/read/intelligent/2012/11/02/21496/rothschild-dan-prabowo-akan-menggempur-bakrie/#sthash.onN7LBU7.dpbs


Agen Freeport?
Kita sering mendengar bagaimana Prabowo berkampanye dengan gaya nya yang tegas beretorika tentang penguasaan Sumber Daya Alam Indonesia, dan bagaimana beliau akan mengambil alih Sumber Daya Alam itu dari tangan-tangan asing. Ini sangat menarik bagi saya, karena yang saya temukan justru berbalik dengan retorika yang sering diucapkan.

Ini video nya:

Silahkan di tonton videonya, ulasannya ada di: http://pemilu.metrotvnews.com/read/2014/06/05/249554/pidato-di-as-adik-prabowo-gerindra-akan-kumpulkan-pajak-rakyat-indonesia

Poin2nya adalah:
1. Rumah Tangga di Indonesia akan membayar pajak (WTF!)
2. Rate pajak penghasilan individu maupun korporat tidak akan dinaikkan
3. Tidak akan di lakukan apapun terhadap Freeport meski hanya membayar royalti < 1% dan dihutang selama 2 tahun.

Ketika Hashim menyampaikan tidak akan melakukan apapun kepada Freeport karena Indonesia senang menerima royalti < 1%, audiense tertawa meledek, bagi saya ini sebuah penghinaan di mata dunia.


3.2. Jokowi

Semua fitnah model ini pernah di terima oleh Jokowi, mulai dari Agen Konglomerat china, Agen Zionis, Agen Freemason, Agen Syiah Internasional, Agen Vatikan, dan Agen Komunis. Yang saya heran agen mebel kok gak ada ya?

Biasanya isu seperti ini datang dari media-media sekunder Islam seperti VOA Islam, PKSPiyungan dan Dakwatuna, kalau di twitter datang dari akun-akun seperti triomacan2000, yang menurut saya sangat pintar membuat cerita dan menebar fitnah. Hampir semua tokoh di Indonesia pernah dituding sebagai agen. Kecuali majikan mereka tentu saja.

Saya sendiri sulit menemukan sumber dari media online mainstream mengenai isu ini, kecuali penyangkalan dari Jokowi sendiri.

Logikanya, kalaupun isu ini benar, maka Jokowi adalah manusia super karena di dunia ini hanya Jokowi yang bisa menyatukan Amerika yang Kapitalis, Israel yang Zionis, China yang State Kapitalisme, Iran yang Syiah, PKI yang Komunis, Konglomerat Indonesia, Vatikan yang Katolik hingga para Kristiani Evangelis, Freemason dan Megawati-PDI- P untuk membantunya menguasai Indonesia.

Dan jangan lupa, Jokowi telah menyatakan mendukung kemerdekaan Palestina secara terbuka, sementara dituding agen Zionis, adalah hal yang sangat kontradiktif.

Bagi saya ini sudah diluar nalar.

===

Itulah yang menjadi bahan pertimbangan saya pada Pilpres 2014. Hal yang penting adalah jangan pernah memilih sebelum membandingkan keduanya apple-to-apple untuk semua isu yang beredar.

Dan sekali lagi, ini bukan persaingan Capres VS Kesempurnaan, tapi Capres VS Capres.

Bagi anda yang memiliki Fakta tentang kedua capres ini di media online mainstream silahkan komentar, tapi kalau sekadar opini, mohon maaf, saya delete :)



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...